
PAITON, 20 Juli 2026 – Upaya pencegahan terhadap berbagai persoalan yang mengancam generasi muda terus diperkuat. Ancaman radikalisme, penyalahgunaan narkoba, kenakalan remaja, hingga pergaulan bebas menjadi perhatian serius yang perlu diantisipasi sejak dini di lingkungan pendidikan. Menjawab tantangan tersebut, Kementerian Agama Kabupaten Probolinggo melalui Seksi Bimbingan Masyarakat Islam menggelar kegiatan Early Warning System (EWS) atau Sistem Peringatan Dini yang dikemas dalam program Bimbingan Remaja Usia Sekolah (BRUS) di MAN 1 Probolinggo, Kecamatan Paiton, Senin (20/7/2026).
Kegiatan ini menghadirkan Tim Densus 88 Satgaswil Jawa Timur Unit Idensos yang diwakili Andika, serta Tim Fasilitator BRUS Seksi Bimas Islam Kantor Kementerian Agama Kabupaten Probolinggo, di antaranya Saiful Bahri, S.Ag., yang turut memberikan pembekalan kepada ratusan peserta didik.

Dalam materinya, Andika menyampaikan pentingnya wawasan kebangsaan, literasi digital, dan kewaspadaan terhadap penyebaran paham radikal yang kini semakin masif melalui media digital. Ia menjelaskan bahwa kelompok radikal sering memanfaatkan kondisi psikologis remaja yang menjadi korban perundungan (bullying), merasa terasing, atau mengalami tekanan emosional untuk menyusupkan ideologi ekstrem.
Selain itu, peserta juga diberikan pemahaman mengenai perkembangan modus baru penyebaran paham terorisme yang memanfaatkan ruang siber, termasuk melalui fitur percakapan dalam permainan daring (game online). Karena itu, kemampuan berpikir kritis, kecakapan digital, serta pengawasan diri menjadi benteng utama agar para pelajar tidak mudah terpengaruh propaganda yang mengarah pada tindakan kekerasan.
Sementara itu, Saiful Bahri, S.Ag., selaku Fasilitator BRUS Seksi Bimas Islam Kankemenag Kabupaten Probolinggo, menyampaikan materi mengenai pembinaan karakter remaja dan penguatan ketahanan moral dalam menghadapi tantangan kehidupan modern. Ia menekankan bahwa remaja tidak hanya dituntut memiliki kecerdasan akademik, tetapi juga harus mampu menjaga akhlak, memilih pergaulan yang sehat, serta memiliki keberanian untuk menolak segala bentuk penyimpangan yang dapat merusak masa depan.
Menurutnya, Program BRUS dirancang sebagai sarana edukasi preventif yang membantu peserta didik mengenali berbagai potensi ancaman sejak dini, sehingga mereka mampu mengambil keputusan yang tepat ketika menghadapi persoalan di lingkungan sekolah maupun masyarakat.
Materi BRUS berfokus pada empat isu utama, yaitu pencegahan radikalisme dan intoleransi, bahaya penyalahgunaan narkoba, pencegahan pergaulan bebas, serta penanggulangan kenakalan remaja seperti tawuran, perundungan (bullying), hingga pengaruh negatif geng motor yang marak di media sosial.
Melalui kegiatan ini, para siswa tidak hanya menjadi penerima informasi, tetapi juga didorong menjadi agent of change di lingkungan masing-masing. Mereka dibekali kemampuan mengenali tanda-tanda awal perilaku berisiko pada teman sebaya serta memahami langkah yang harus dilakukan apabila menemukan indikasi penyimpangan yang memerlukan perhatian pihak sekolah maupun orang tua.
Pihak MAN 1 Probolinggo memberikan apresiasi atas sinergi antara Densus 88 Satgaswil Jawa Timur dan Tim Fasilitator BRUS Seksi Bimas Islam Kankemenag Kabupaten Probolinggo. Kolaborasi ini diharapkan mampu memperkuat karakter peserta didik sekaligus mewujudkan lingkungan madrasah yang aman, religius, berprestasi, serta terbebas dari pengaruh radikalisme, narkoba, pergaulan bebas, dan berbagai bentuk kenakalan remaja.
