
Probolinggo, 8 Agustus 2026 — Menjaga kualitas pembelajaran Al-Qur’an membutuhkan lebih dari sekadar penguasaan metode. Diperlukan kebersamaan, komunikasi, evaluasi, dan komitmen yang terus dirawat. Semangat tersebut tergambar dalam Koordinasi dan Silaturahim Amanah Metodologi Metode Qiroati se-Probolinggo yang berlangsung di kediaman Ustadzah Jazilah, Korcam Wonoasih, Jumat (8/8/2026).
Kegiatan ini dihadiri seluruh Korcam Amanah Metodologi se-Probolinggo bersama Amanah Metodologi Cabang, Ustadz Samsul Huda. Pertemuan berlangsung dalam suasana kekeluargaan, namun tetap fokus membahas penguatan metodologi dan pembinaan kualitas pembelajaran Al-Qur’an di masing-masing wilayah.
Salah satu peserta yang turut aktif dalam amanah tersebut adalah Saiful Bahri, Penyuluh Agama Islam pada KUA Kecamatan Tegalsiwalan. Selain menjalankan tugas kepenyuluhan, Saiful Bahri juga dipercaya sebagai Amanah Metodologi Metode Qiroati untuk wilayah Tegalsiwalan dan Banyuanyar, bidang yang selaras dengan kiprahnya dalam mendukung upaya pemberantasan buta aksara Al-Qur’an di tengah masyarakat.
Keterlibatan Saiful Bahri dalam kegiatan ini menjadi bagian dari ikhtiar untuk terus menyelaraskan tugas kepenyuluhan dengan penguatan pendidikan Al-Qur’an. Menurutnya, pemberantasan buta aksara Al-Qur’an tidak cukup dilakukan melalui kegiatan pembelajaran di lembaga pendidikan, tetapi membutuhkan sinergi antara guru, lembaga, penyuluh, dan berbagai unsur yang memiliki perhatian terhadap pendidikan Al-Qur’an.“Metodologi harus terus dijaga kualitasnya. Ketika guru mendapatkan pembinaan yang baik dan penerapan metode dilakukan secara konsisten, insyaallah proses pembelajaran santri juga akan semakin terarah,” demikian semangat yang dibangun dalam koordinasi tersebut.
Dalam pertemuan, para Amanah Metodologi saling berbagi pengalaman mengenai dinamika pembinaan di lapangan, menyamakan persepsi dalam penerapan metode, serta membahas langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kualitas guru dan lembaga. Koordinasi semacam ini dinilai penting agar setiap wilayah tidak berjalan sendiri-sendiri, melainkan bergerak dalam satu visi dan standar yang sama.
Bagi Saiful Bahri, amanah sebagai Penyuluh Agama Islam dan Amanah Metodologi memiliki titik temu yang kuat. Keduanya sama-sama bermuara pada peningkatan kualitas kehidupan keagamaan masyarakat, khususnya dalam memastikan masyarakat memiliki kemampuan membaca Al-Qur’an dengan baik dan benar.“Ketika masyarakat mampu membaca Al-Qur’an, sesungguhnya kita sedang membuka pintu yang lebih luas menuju pemahaman dan pengamalan nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan,” menjadi spirit yang terus dibawa dalam pelaksanaan tugas dan pengabdian.
Silaturahim tersebut akhirnya tidak hanya menjadi forum koordinasi, tetapi juga menjadi ruang untuk memperkuat ukhuwah dan menyegarkan kembali semangat para pengemban amanah. Dari pertemuan sederhana di kediaman Korcam Wonoasih itu, tumbuh tekad untuk terus menjaga kualitas metodologi dan memperluas ikhtiar pemberantasan buta aksara Al-Qur’an.
Karena perjuangan mengajarkan Al-Qur’an bukan sekadar tentang menyampaikan bacaan, tetapi tentang memastikan setiap generasi memiliki jalan untuk dekat, mampu membaca, dan kemudian memahami Kalamullah.
