
kabarpenyuluh.my.id– (Saiful Bahri- Alumni Tahun 2000 M)
Ketika Kiai Telah Tiada, Barulah Kami Memahami Makna Nasihatnya
Dulu, ketika masih menjadi santri, kami sering mengira bahwa keberhasilan di pesantren diukur dari banyaknya kitab yang dikaji, tebalnya catatan, atau panjangnya hafalan. Setiap hari kami bergelut dengan berbagai pelajaran, mendengarkan penjelasan kiai, dan menjalani rutinitas pondok yang kadang terasa berat.
Namun kini, setelah bertahun-tahun meninggalkan pondok dan hidup di tengah masyarakat, ada satu kenyataan yang membuat hati bergetar. ternyata yang paling membekas bukanlah banyaknya materi yang pernah kami pelajari, melainkan keteladanan seorang kiai yang diam-diam membentuk cara kami menjalani hidup.
Beliau tidak pernah memaksa santrinya menjadi orang besar. Beliau hanya ingin santrinya menjadi orang baik.
Dawuh beliau yang sederhana itu dahulu mungkin terdengar biasa saja:
“Santri An-Nur gak perlu hafal Alfiyah, sing penting sholate dilakoni.”

Dulu kami menganggapnya sekadar guyonan. Kini kami sadar, itu adalah intisari pendidikan pesantren.
Sebab di luar sana, kami menjumpai banyak orang yang pandai berbicara tetapi sulit menjaga amanah. Banyak yang tinggi ilmunya tetapi rendah adabnya. Banyak yang mampu berdebat tentang agama, tetapi lalai menegakkan shalat.
Saat itulah kami teringat wajah teduh kiai. Teringat bagaimana beliau lebih menekankan kejujuran daripada kepandaian. Lebih mengutamakan adab daripada gelar. Lebih bangga melihat santrinya istiqamah berjamaah daripada sekadar pandai berargumen.
Hari ini, sebagian santri telah menjadi guru, ustazd, pedagang, petani, pegawai, bahkan pemimpin di tengah masyarakat. Tetapi ketika menghadapi berbagai persoalan hidup, yang sering muncul dalam ingatan bukanlah rumus-rumus ilmu yang rumit, melainkan nasihat sederhana yang dahulu sering kami dengar berulang-ulang.
Nasihat untuk menghormati orang tua.
Nasihat untuk memuliakan tetangga.
Nasihat untuk tidak merasa paling benar.
Nasihat untuk menjaga lisan.
Nasihat untuk tetap rendah hati meskipun memiliki ilmu.
Dan yang paling penting, nasihat untuk tidak pernah meninggalkan shalat.
Kini kami memahami bahwa kiai sedang mempersiapkan kami bukan hanya untuk hidup di dunia, tetapi juga untuk perjalanan panjang menuju akhirat.
Beliau sadar bahwa tidak semua santri akan menjadi ulama besar. Tidak semua santri akan mampu menghafal ribuan bait atau menguasai berbagai cabang ilmu. Tetapi setiap santri bisa menjadi ahli shalat, ahli adab, ahli kejujuran, dan ahli kebaikan.
Mungkin itulah warisan terbesar seorang kiai.
Bukan bangunan yang megah.
Bukan banyaknya santri.
Bukan pula ketenaran.
Melainkan lahirnya manusia-manusia yang membawa akhlak pesantren ke tengah masyarakat.
Hari ini, ketika telah lebih dahulu dipanggil oleh Allah, kami para alumni sering kali menundukkan kepala dengan mata yang basah.
Karena kami sadar, selama ini yang menjaga langkah kami bukan hanya ilmu yang beliau ajarkan, tetapi juga doa-doa yang beliau panjatkan dalam sepertiga malam.
Dan sungguh, tidak ada cara terbaik untuk membalas jasa seorang kiai selain mengamalkan apa yang beliau ajarkan.
Menjaga shalat.
Menjaga adab.
Menjaga nama baik pesantren.
Sebab pada akhirnya, seorang kiai tidak sedang mencetak santri yang paling pintar. Ia sedang menyiapkan manusia yang selamat dunia dan akhirat.
Dan semakin bertambah usia kami, semakin kami mengerti bahwa dawuh beliau yang sederhana itu sesungguhnya adalah lautan hikmah yang tak pernah habis diselami.

Banyak sekali momen yang tidak pernah aq lupakan bersama ky.Hasib dan Bu nyai Kama.Setiap malam aq ,mbak Elsa,Fatim,mbak Asma(almarhumah) bungkus es d dalem,lalu kyai datang kundangan,dan beliau langsung kasih berkat k aq dan teman teman untuk d makan.Kadang aq merasa beliau Mbah q sendiri karena TDK pernah membedakan,dan sekarang aq memang jadi keluarga.Terima kasih mas yang telah menulis profil kyai begitu indah,aq membaca dengan meneteskan air mata, terbayang semua memori waktu di pondok lama dengan suka dan dukanya, sekali lagi terimakasih mas,🙏♥️
Sama sama, mungkin banyak diantara kita mempunyai kisah dan pengalaman yang berbeda. beliau memang sosok tauladan dan sumber kehidupan para santrinya